Tampilkan postingan dengan label Seni dan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

Dampak nya nie Gan!!,,


Balikpapan.Pendirian organisasi kemasyarakatan (ormas) La Galigo beberapa waktu yang lalu di Balikpapan menuai kontrofersi, pasalnyadengan pendirian ormas tersebut menuai penolakan dari sejumlah organisasi kedaerahan di Kalimantan Timur yang meminta La Galigo dibubarkan.
Dengan menggunakan bermacam kendaraan ribuan warga dari berbagai ormas kedaerahan yang ada dibalikpapan melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Dprd Balikpapan. Ribuan massa yang datang ini langsung melakukan orasi dan membacakan sejumlah poin yang merupakan aspirasi dari mereka yang meminta sikap tegas dari pemerintah kota Balikpapan atas terbentuknya Ormas La Galigo beberapa waktu yang lalu tersebut.
Para pengunjuk rasa ini beranggapan pembentukan ormas yang berlandaskan kesukuan tertentu dapat menimbulkan suasana yang tidak harmonis khususnya di kota balikpapan, dan di Kalimantan Timur pada umumnya. Sehingga untuk mengantisipasi keresahan yang nantinya mungkin akan terjadi di masyarakat, para pengunjuk rasa meminta dengan tegas pembubaran lagaligo.

Read More

Ormas La galigo


BALIKPAPAN - Ormas baru bernama La Galigo akan dideklarasikan pembentukannya pada 25 Juni nanti. Deklarasi ini sekaligus pelantikan pengurus di Dome Balikpapan. Dewan Pembina La Galigo Dahri Mamma mengatakan pihaknya sudah menyiapkan segala persyaratan pembentukan La Galigo ke Pemkot Balikpapan. “Kita sudah siapkan mulai NPWP, akta notaris pendirian, surat keterangan domisili hingga program kerjanya,” kata Dahri Mamma kepada Koran Kaltim siang kemarin.
Read More

Senin, 20 Desember 2010

mistik badik bugis


Badik/kawali bagi masyarakat Sulawesi Selatan mempunyai kedudukan yang tinggi. Badik/kawali bukan hanya berfungsi sekedar sebagai senjata tikam, melainkan juga melambangkan status, pribadi dan karakter pembawanya. Kebiasaan membawa Badik/kawali dikalangan masyarakat terutama suku bugis dan Makassar merupakan pemandangan yang lazim ditemui sampai saat ini terutama di tanah Bone. Kebiasaan tersebut bukanlah mencerminkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan khususnya suku bugis dan makassar adalah masyarakat yang gemar berperang atau suka mencari keributan melainkan lebih menekankan pada makna simbolik yang terdapat pada Badik/kawali tersebut.  Pentingnya kedudukan Badik/kawali di kalangan masyarakat bugis dan makassar membuat masyarakat berusaha membuat/mendapatkan badik yang istimewa baik dari segi pembuatan, bahan baku, pamor maupun sisi’ (tuah) yang dipercaya dapat memberikan energi positif bagi siapa saja yang memiliki atau membawanya. Badik/kawali yang bagus/istimewa dapat dilihat dari beberapa unsur, yakni:
Read More

MAYAT TERHORMAT

by Butet kertaredjasa , agus noor dan indra tranggono 

PROLOG:
Selamat malam,…bla,bla,bla…..(improvisasi)
Sebelum pertunjukan ini dimulai, marilah ada baiknya kita membangun kesepakatan, yaitu hendaknya pertunjukan kita malam ini tidak diganggu bunyi tu-la-lit-tu-la-lit ponsel anda atau pager. Bunyi-bunyi ilegal untuk sementara diharamkan. Maka saya memberi kesempatan kepada anda untuk mengeksplorasi naluri-naluri purba anda: segeralah anda menjadi pembunuh. Bunuhlah pager dan handphone anda ! Ini jauh lebih baik katimbang anda membunuh orang, atau membacok, hanya karena perbedaan visi atau perbedaan pendapat. Kalau nanti ternyata masih tu-la-lit-tu-la-lit, nikmatilah risikonya dipisuhi penonton lain.

Baiklah saudara. Meskipun saya berdiri di sini dengan wajah coreng moreng kayak badut, sesungguhnya saya ini bukan badut. Karena terus terang saja, saya tidak ingin memperbanyak jumlah badut di negeri ini yang dari hari ke hari jumlahnya terus menggelembung. Kita sudah polusi badut, over kuota. Semua posisi sudah diisi oleh orang-orang yang lucu dan menggemaskan, sampai-sampai tukang monolog yang sok nglucu terancam kehilangan sandang pangannya.
Read More

lidah pisang (naskah monolog)

LIDAH PINGSAN
S e b u a h M o n o l o g
(revisi - untuk pentas Yogya, 25-26 Nov 1997)

karya Agus Noor & Indra Tranggono
dimainkan Butet Kartaredjasa dengan penata musik Djaduk Ferianto

lidah-pingsan-1.JPG
SEORANG wartawan mencoba memberikan kesaksiannya, tentang Pak Mardiko yang pepe di Balai Desa Menangan. Sudah hampir 30 tahun Pak Mardiko, seorang buruh tani, pepe seperti itu, digerus hujan dan debu. Pak Mardiko pepe menuntut kejelasan nasib anaknya yang dituduh mengerakkan kerusuhan, dan hilang tak tentu rimbanya.
Kegigihan Pak Mardiko, membuat Pak Lurah merasa terganggu. Ia merasa itu sebagai ancaman atas jabatannya. Bermacam usaha ia lakukan. Membujuk secara halus, sampai mengirim petugas keamanan untuk menggertak dan menghentikan pepe Pak Mardiko. Tetapi Pak Mardiko bergeming. Ia terus menuntut agar Pak Lurah memberi penjelasan, bagaimana nasib anaknya yang semata wayang itu. Ia yakin, Pak Lurahlah yang merancang skenario penangkapan itu, yang merekayasa peristiwa kerusuhan antar desa itu. Untuk mencuci tangan, Pak Lurah melimpahkan semua kesalahan itu pada anaknya. Pak Mardiko yakin itu. Karena itulah, ia terus bersikukuh pepe, meski tubuhnyta telah renta dan sakit-sakitan.


Read More

Matinya Toekang kritik (naskah Monolog)

– Sebuah Teater Monolog –

Karya Agus Noor

Terdengar detak nafas waktu…

Sebelum pertunjukan – sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang – semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di antara kursi-kursi yang (masih) kosong…

Ketika para penonton mulai masuk ruang pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara ddetak-detik waktu yang bagai mengepungnya dari mana-mana.[1] Sementara pada satu bagian panggung, mereka menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu temaram dalam cahaya. Terlihat selimut menutupi kursi itu, seperti ada orang yang tertidur abadi di atas kursi itu. Waktu berdenyut. Kursi terus bergoyangan.
Read More

Minggu, 12 Desember 2010

Artikel La Galigo (warisan seni budaya nusantara)

La Galigo adalah sebuah karya sastra yang terbentang sepanjang zaman. Epos yang panjangnya melebihi Mahabharata ini berisi kisah di abad lalu, yang sempat menjadi kepercayaan di antara masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sayangnya, gerakan pemurnian ajaran agama, prasangka dan pula modernisasi telah bersekutu menggempur “kesaktian” warisan budaya ini. Akibatnya, karya sastra ini kini hanya dikenal di kalangan akademisi. Padahal, La Galigo memiliki kekuatan yang mengejutkan.

Syahdan, pada abad ke-15, dunia telah mengenal La Galigo. Bahkan 300 ribu larik epik itu konon sudah lahir ketika abad Masehi baru mencium bumi. Sungguh tua, sungguh panjang usia kisah yang pernah menjadi bagian dalam kehidupan suku Bugis ini. Inilah epos yang konon terpanjang di seluruh dunia. Jumlah ini jauh lebih gemuk ketimbang
epos agung Mahabharata, yang terdiri dari 150 ribu-200 ribu baris, atau Iliad dan Odyssey yang “hanya” terdiri dari 16 ribu baris. Karena itulah, bulan Maret silam, puluhan peneliti dan pakar internasional bertemu di Barru, Sulawesi Selatan, untuk mendiskusikan karya sastra mahapanjang yang istimewa ini.
Read More

La Galigo (part 2)

Sebelumnya Bila Sobat belum membaca mengenai La Galigo Part I saya saran agar membacanya dulu. agar tidak kebingungan pada postingan kali ini. Kepercayaan Masyarakat bugis tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada Epos La Galigo sangatlah kuat.
Read More

La Galigo (Part 1)

La Galigo sebuah Naskah yang manuskripnya bisa mencapai 2851 halaman ukuran kertas folio. Yang menceritakan Awal mula kerajaan bumi, Kisah Dewa-Dewi yang berasal dari kerajaan Langit dan kerajaan bawah air, Kisah Percintaan Abadi, Serta semua kearifan lokal yang terkandung dalam kebudayaan bugis klasik. Naskah La Galigo ini merupakan epos terpanjang di dunia yang dimana mengalahkan panjangnya Manuskrip dari India yang dikenal dengan Mahabarata

Read More